Bayangkan kemasan yang terlihat hebat di layar, tetapi tenggelam di rak dan tidak mendorong penjualan. Situasi ini sering terjadi ketika visual menang, sementara fungsi dan strategi tertinggal. Dengan mengenali beberapa kesalahan desain yang sering muncul, Anda bisa mengarahkan desain kemasan menjadi alat nyata untuk membangun merek dan mendorong pembelian.
Artikel ini membahas tiga kesalahan utama yang sering ditemui di berbagai kategori produk, dari FMCG sampai merek niche. Di setiap bagian Anda akan menemukan contoh praktis dan langkah perbaikan. Tujuannya agar desain kemasan tidak hanya menarik, tetapi juga efektif di pasar Indonesia yang sangat kompetitif.
1. Terlalu fokus pada estetika, lupa tujuan bisnis
Banyak tim produk terpikat pada moodboard, warna, dan ilustrasi, lalu lupa menanyakan satu hal penting: apa peran kemasan dalam strategi bisnis. Akibatnya, desain tampak bagus di presentasi, tetapi tidak memberi dorongan nyata pada penjualan, persepsi kualitas, atau diferensiasi di rak.
Kemasan sejatinya adalah media komunikasi yang selalu bertemu konsumen di titik pembelian. Jika desain hanya mengikuti tren tanpa target perilaku yang jelas, kemasan kehilangan pengaruhnya. Contohnya, kemasan kopi yang menganut estetika minimalis tetapi tidak memberi sinyal soal rasa atau intensitas akan sulit bersaing dengan merek yang menonjolkan manfaat secara jelas.
Mulailah strategi desain kemasan dengan pertanyaan bisnis yang konkret, misalnya:
- Apakah tujuan utama mendorong trial, repeat purchase, atau upgrade ke varian premium
- Siapa pesaing utama di rak, dan celah visual apa yang bisa diisi
- Persepsi apa yang ingin dibangun, misalnya lebih higienis, lebih premium, atau lebih ramah lingkungan
Jawaban tersebut lalu diterjemahkan ke elemen visual dan verbal: pilihan warna, struktur informasi, gaya ilustrasi, dan tone of voice. Dengan pendekatan ini, desain tidak hanya cantik, tetapi juga terarah pada sasaran bisnis yang dapat diukur.
2. Pesan utama brand tidak jelas atau tenggelam
Satu kesalahan besar adalah kemasan yang penuh informasi tetapi tidak punya satu pesan utama yang melekat di kepala konsumen. Akibatnya, orang berhenti memperhatikan sebelum sempat memahami keunggulan produk Anda.
Banyak label di Indonesia menumpuk klaim seperti bebas gula, tinggi serat, tanpa pengawet, dan harga hemat sekaligus. Semua klaim mungkin penting, tetapi tanpa prioritas, konsumen tidak akan mengingat apa pun. Di rak yang padat, mata hanya punya beberapa detik untuk memutuskan apakah produk layak diambil.
Untuk memperjelas pesan utama, gunakan tiga langkah sederhana:
- Tentukan satu janji inti yang paling relevan untuk segmen target saat ini
- Pastikan janji inti tampil paling menonjol lewat ukuran huruf, posisi, dan kontras warna
- Dukung dengan maksimal dua atau tiga pesan pendukung, bukan deretan klaim yang tidak terkurasi
Misalnya, untuk minuman fungsional yang menonjolkan energi harian, pesan utama bisa sederhana: energi tahan lama tanpa rasa bersalah. Klaim lain seperti rendah kalori atau mengandung vitamin tetap ditampilkan, tetapi secara visual dibuat lebih tenang agar tidak bersaing dengan pesan inti.
Satu tip yang sering terlupa: pastikan konsistensi antara bagian depan dan belakang kemasan. Pesan di depan sebaiknya diperkuat, bukan dikaburkan, oleh informasi detail di belakang. Jika bagian belakang terlalu teknis tanpa penjelasan praktis, itu bisa menurunkan kepercayaan konsumen.
3. Mengabaikan konteks rak, channel, dan regulasi
Banyak desain dibuat seolah-olah hanya akan dilihat di layar komputer atau feed media sosial. Padahal tantangan sesungguhnya ada di rak minimarket, supermarket, pasar tradisional modern, hingga e-commerce. Di rak fisik, produk jarang berdiri sendiri. Ia dikelilingi warna merek pesaing, label promo, dan penataan yang tidak ideal. Tanpa mempertimbangkan jarak pandang, ukuran tulisan, dan kontras warna, produk mudah tenggelam, dan di e-commerce tantangannya berbeda: kemasan terlihat kecil di layar ponsel sehingga struktur visual yang rumit mengurangi keterbacaan.
Beberapa pertanyaan penting yang sebaiknya dijawab sebelum finalisasi desain adalah:
- Seperti apa tampilan produk ketika berjejer dengan tiga hingga lima pesaing terdekat
- Apakah pesan utama masih terbaca jelas dari jarak satu hingga dua meter
- Bagaimana kemasan terlihat pada thumbnail ukuran kecil di marketplace
Uji sederhana bisa dilakukan dengan mencetak mockup lalu menempatkannya di rak simulasi bersama produk kompetitor. Anda juga dapat mengecilkan tampilan desain di layar hingga seukuran thumbnail untuk memastikan elemen kunci masih terbaca. Pendekatan ini membantu meningkatkan shelf impact secara terukur.
Selain konteks rak, banyak brand juga mengabaikan regulasi lokal yang berlaku di Indonesia. Misalnya penulisan klaim kesehatan, informasi komposisi, label halal, dan informasi gizi memiliki format yang harus diikuti. Mengabaikan aturan ini tidak hanya berisiko dari sisi kepatuhan, tetapi juga dapat merusak kepercayaan konsumen bila informasi terasa tidak lengkap atau membingungkan.
Untuk klaim khusus, selalu rujuk regulasi terkait pangan olahan, label gizi, atau standar kategori produk yang berlaku. Jika ragu, tim desain dan marketing perlu berkoordinasi dengan pihak legal atau QA agar setiap klaim visual di kemasan selaras dengan regulasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks retail modern, efektivitas kemasan berkaitan langsung dengan kemampuan produk menarik perhatian dalam hitungan detik. Referensi seperti panduan mengenai cara meningkatkan shelf impact lewat strategi desain kemasan di artikel terkait dapat membantu Anda mempertajam pendekatan kreatif sekaligus praktis.
Merangkai strategi desain kemasan yang benar-benar bekerja
Tiga kesalahan tadi sering muncul bersamaan: desain terlalu estetis tanpa tujuan bisnis, pesan utama tidak jelas, dan konteks rak serta regulasi diabaikan. Kabar baiknya, semua ini bisa diperbaiki jika Anda mulai memandang kemasan sebagai alat strategi, bukan hanya objek visual.
Mulailah dari dasar: tetapkan peran kemasan dalam perjalanan konsumen, pilih satu pesan inti yang paling penting, lalu uji desain di konteks yang mendekati kondisi nyata. Setiap revisi sebaiknya berbasis data atau observasi, bukan hanya selera subjektif. Dengan cara ini, keputusan desain menjadi lebih terukur dan berdampak langsung ke performa produk.
Langkah berikutnya yang dapat Anda ambil adalah meninjau kembali portofolio kemasan secara menyeluruh dan mengidentifikasi area yang paling membutuhkan perbaikan strategis.
Konsultasikan desain kemasan: https://gpack.co.id
