Di rak retail atau etalase marketplace, kemasan sering hanya punya beberapa detik untuk berbicara, tantangannya banyak brand menumpuk klaim sehingga pesan utama tidak terbaca. Sebaliknya, ada juga yang terlalu minimal dan gagal menjelaskan mengapa orang harus memilih produk. Artikel ini membahas 5 cara praktis memadukan pesan produk ke desain kemasan supaya lebih jelas, konsisten, dan membantu keputusan beli.
1) tentukan pesan inti dan susun hierarki informasi
Langkah paling menentukan adalah memilih satu pesan inti yang menjadi judul besar kemasan. Pesan ini bukan sekadar tagline kreatif, melainkan alasan utama pembeli memilih produk Anda, misalnya “lebih hemat 30%”, “aman untuk kulit sensitif”, atau “praktis untuk on-the-go”. Setelah itu, tempatkan semua informasi lain sebagai pendukung, bukan pesaing.
Untuk menghindari kemasan terasa penuh, gunakan hierarki yang konsisten: pesan inti di posisi paling mudah terlihat, lalu 2–3 bukti pendukung, dan detail teknis. Misalnya pada kopi siap minum: pesan inti “kopi susu rendah gula”, pendukung “7g gula per botol” dan “tanpa pemanis buatan”, sementara komposisi, izin edar, dan informasi gizi diletakkan di panel belakang.
- Tentukan 1 pesan utama yang bisa dipahami tanpa membaca lama.
- Pilih 2–3 klaim pendukung yang paling relevan dengan kebutuhan pembeli.
- Kelompokkan informasi wajib (komposisi, netto, produsen, dll.) agar mudah dipindai.
- Gunakan aturan “sekali lihat”: apa yang harus tertangkap dalam 3 detik?
2) terjemahkan pesan ke elemen visual yang konsisten
Pesan produk lebih kuat bila diterjemahkan ke visual, bukan hanya teks. Desain yang efektif membuat orang merasakan manfaatnya sebelum sempat membaca, misalnya lewat warna, tipografi, bentuk, dan ikon. Kuncinya konsistensi: elemen visual harus memperkuat pesan inti, bukan sekadar mengikuti tren.
Cara ke-2: buat sistem visual untuk satu pesan utama. Jika pesan Anda tentang “fresh” dan “ringan”, gunakan palet terang, ruang kosong yang memadai, dan tipografi bersih. Jika menekankan “premium” atau “craft”, pakai detail taktil seperti emboss atau spot UV dan tipografi berkarakter, tapi tetap terbaca.
Cara ke-3: gunakan sinyal cepat berupa ikon dan angka. Ikon kecil yang konsisten menghemat ruang dan mempercepat pemahaman, misalnya ikon “halal”, “BPOM”, “recyclable”, atau “no MSG” bila dapat dipertanggungjawabkan. Angka spesifik biasanya lebih dipercaya daripada klaim umum; misalnya “Protein 20g” lebih kuat daripada “tinggi protein” jika didukung data gizi.
Cara ke-4: pilih struktur panel yang mengikuti alur baca. Pada kemasan berdiri atau botol, jadikan panel depan panggung pesan inti, panel samping untuk bukti pendukung dan cara pakai, lalu panel belakang untuk informasi lengkap. Untuk produk yang sering difoto di katalog online, pastikan panel depan tetap komunikatif saat muncul sebagai thumbnail.
Jika Anda ingin memastikan keputusan desain berdampak pada bisnis, rencanakan metrik sejak awal. Banyak tim terbantu dengan audit sederhana untuk menghubungkan perubahan kemasan dengan performa penjualan, misalnya melalui langkah audit untuk mengukur ROI desain kemasan sehingga diskusi tidak hanya berhenti pada selera visual.
3) pastikan pesan akurat, patuh, dan terbukti lewat pengujian
Kemasan yang meyakinkan harus aman secara hukum dan akurat secara fakta, terutama untuk pangan, minuman, kosmetik, dan suplemen. Di Indonesia, kepatuhan umumnya terkait kejelasan informasi produk, kebenaran klaim, dan penempatan elemen seperti nomor izin edar (misalnya BPOM) serta label halal bila relevan. Jika aturan berbeda antar daerah atau kanal, gunakan standar paling ketat sebagai patokan internal agar konsisten.
Cara ke-5: uji keterbacaan dan pemahaman sebelum cetak massal. Anda tidak perlu riset mahal; lakukan uji cepat dengan 5–10 orang sesuai target. Tanyakan tiga hal: (1) produk ini apa, (2) manfaat utamanya apa, (3) siapa yang paling cocok memakainya. Jika jawaban berbeda-beda, hierarki pesan atau visual masih perlu diperbaiki.
- Uji “3 detik”: tampilkan kemasan sebentar, minta orang menyebutkan pesan yang mereka tangkap.
- Uji jarak baca: letakkan kemasan 1 meter, cek apakah nama produk dan varian tetap terbaca.
- Uji kanal: foto kemasan untuk marketplace; cek apakah pesan inti hilang saat jadi gambar kecil.
- Uji konsistensi varian: pastikan varian mudah dibedakan tanpa merusak identitas brand.
Setelah pengujian, rapikan pesan dengan prinsip sederhana: satu klaim utama yang kuat, bukti spesifik, lalu detail lengkap yang mudah ditemukan. Dengan begitu, kemasan tidak hanya menarik, tetapi juga berfungsi sebagai alat komunikasi yang mengurangi keraguan pembeli dan memperjelas nilai produk.
Jika Anda punya draf kemasan, coba evaluasi apakah pesan inti terbaca dalam tiga detik.
Konsultasikan desain kemasan: https://gpack.co.id
