5 KPI Yang Harus Diukur Setelah Meluncurkan Strategi Desain Kemasan

Begitu kemasan baru mulai turun ke rak, diskusi di tim sering terbagi dua: ada yang fokus ke visual, ada yang mengejar angka penjualan. Padahal keduanya harus bertemu pada satu tujuan bersama, yaitu kinerja yang bisa diukur secara objektif. Di sinilah lima KPI kunci membantu Anda melihat apakah strategi desain kemasan benar-benar efektif, bukan sekadar terasa lebih menarik.

1. Peningkatan penjualan per SKU setelah peluncuran

Metrik pertama yang paling langsung terlihat adalah penjualan per SKU yang terkena perubahan kemasan. KPI ini menjawab: apakah kemasan baru mendorong lebih banyak produk keluar dari rak.

Untuk mengukurnya, bandingkan penjualan sebelum dan sesudah peluncuran pada periode sebanding, misalnya 3 bulan sebelum dan 3 bulan sesudah. Sesuaikan data dengan faktor musiman, promosi, atau perubahan harga agar hasilnya tidak bias.

Contoh: jika penjualan bulanan rata-rata sebelumnya Rp100 juta per SKU, lalu enam minggu setelah peluncuran naik menjadi Rp125 juta tanpa promosi besar, kenaikan 25% itu menunjukkan kemasan baru membantu produk Anda terpilih di titik penjualan.

Agar lebih akurat, pisahkan antara:

  • SKU yang hanya mengalami perubahan kemasan
  • SKU yang bersamaan dengan perubahan harga atau bundling

Dengan begitu, Anda bisa mengatribusikan dampak ke desain kemasan dengan lebih jelas, bukan karena faktor lain.

2. Conversion rate di rak dan di kanal digital

Desain kemasan yang efektif tidak hanya menarik mata, tetapi juga mengubah perhatian menjadi pembelian. Itulah mengapa conversion rate merupakan KPI penting yang sering terlewat saat membahas desain.

Di kanal offline, conversion rate bisa didekati lewat data share of shelf dan share of sales. Jika space di rak relatif stabil, tetapi penjualan Anda naik lebih tinggi dari kompetitor, itu tanda kemasan membantu memenangkan momen keputusan di depan rak.

Di kanal online, kemasan tampil sebagai foto utama dan visual tambahan di marketplace atau e-commerce. Anda bisa memantau:

  • Click-through rate (CTR) dari impresi ke klik halaman produk
  • Conversion rate dari klik ke transaksi

Jika setelah mengganti foto dan visual kemasan CTR naik tetapi conversion rate stagnan, berarti visual menarik perhatian namun pesan di kemasan belum cukup meyakinkan. Sebaliknya, kenaikan conversion rate menunjukkan klaim dan informasi kemasan berhasil mengatasi keraguan konsumen.

Penting menyelaraskan pesan di kemasan dengan deskripsi produk, benefit utama, dan ulasan pembeli agar pengalaman konsumen konsisten di semua titik kontak.

3. Brand perception dan kejelasan pesan di mata konsumen

Angka penjualan memberi gambaran hasil akhir, namun persepsi konsumen menjelaskan mengapa strategi desain kemasan berhasil atau belum. KPI tentang brand perception mencegah keputusan yang hanya berdasar selera semata saat ingin iterasi desain.

Indikator yang bisa diukur lewat survei singkat atau wawancara konsumen antara lain:

  • Seberapa mudah konsumen mengenali brand saat melihat kemasan di rak
  • Seberapa jelas benefit utama produk setelah melihat bagian depan kemasan selama 3 detik
  • Apakah kemasan terasa relevan dengan target segmen (usia, gaya hidup, daya beli)
  • Apakah kemasan dianggap modern, ketinggalan zaman, atau sulit dibaca

Metode praktis: tes “3-detik”. Tunjukkan visual kemasan ke responden selama 3 detik, tutup, lalu minta mereka menyebutkan brand, jenis produk, dan satu benefit utama. Semakin banyak yang benar, semakin kuat peran kemasan menyampaikan pesan inti.

Anda juga dapat memantau perubahan sentimen ulasan di marketplace setelah peluncuran. Komentar seperti “kemasannya sekarang lebih jelas varian rasanya” atau “jadi lebih gampang bedakan ukuran dan varian” adalah bukti nyata perbaikan desain bekerja di level konsumen.

4. Tingkat trial, repeat purchase, dan retensi

Kemasan sering menjadi pintu masuk trial pertama, terutama untuk produk FMCG atau kategori dengan banyak pesaing. Setelah peluncuran desain baru, pantau berapa banyak pembeli baru yang masuk dan berapa yang kembali membeli.

Ada tiga dimensi yang saling terkait:

  • Trial rate: persentase pembeli baru yang pertama kali mencoba produk setelah peluncuran kemasan.
  • Repeat purchase rate: porsi pembeli yang melakukan pembelian ulang dalam jangka waktu tertentu, misalnya 30 atau 60 hari.
  • Customer retention: konsistensi pelanggan yang terus memilih brand Anda dari waktu ke waktu dibanding beralih ke kompetitor.

Desain kemasan yang kuat menarik trial lewat visual menonjol dan benefit yang jelas. Namun repeat purchase biasanya dipengaruhi oleh kualitas produk, pengalaman penggunaan, dan kemudahan menemukan varian yang sama saat belanja berikutnya.

Contoh: jika setelah mengganti desain terjadi lonjakan pembeli baru tetapi repeat rate menurun, kemungkinan kemasan baru menjanjikan hal yang tidak sepenuhnya terkonfirmasi oleh pengalaman produk. Sebaliknya, jika trial naik dan repeat ikut menguat, berarti janji visual dan isi produk selaras di mata konsumen.

Untuk merek dengan distribusi modern trade, minta laporan data panel atau loyalty member dari retailer untuk melihat pola pembeli baru versus pembeli lama. Di kanal online, pantau data pembeli kembali (repeat customer) di dashboard marketplace atau sistem CRM Anda.

5. Return on investment (ROI) dan efisiensi biaya kemasan

Pada akhirnya, setiap pembaruan desain kemasan adalah investasi yang harus diukur dampak finansialnya. ROI kemasan bukan hanya soal harga cetak per unit, melainkan bagaimana desain dan struktur kemasan menghasilkan nilai lebih besar dari biaya yang dikeluarkan.

Mulailah dengan menghitung total biaya pengembangan dan implementasi, termasuk:

  • Riset dan pengembangan konsep desain
  • Produksi artwork, ilustrasi, fotografi, dan adaptasi ukuran
  • Biaya plat, silinder, atau pergantian tooling pabrik
  • Selisih biaya material per unit sebelum dan sesudah

Kemudian bandingkan dengan tambahan margin kotor yang dihasilkan setelah peluncuran selama periode tertentu, misalnya 6 sampai 12 bulan. Jika tambahan margin bersih melampaui total biaya pengembangan, desain kemasan baru memberikan ROI positif.

Untuk memudahkan perhitungan, Anda dapat menggunakan panduan terstruktur seperti checklist untuk menghitung dampak strategi desain kemasan pada penjualan lalu menyesuaikannya dengan data aktual dari bisnis Anda.

Selain ROI, perhatikan juga efisiensi operasional yang dihasilkan kemasan baru, misalnya:

  • Penurunan tingkat kerusakan produk saat distribusi karena struktur kemasan lebih kuat
  • Penghematan biaya logistik karena ukuran kemasan lebih ringkas
  • Penyederhanaan jumlah varian kemasan sehingga inventory lebih mudah dikelola

Ketika efisiensi ini digabung dengan kenaikan penjualan, Anda akan mendapatkan gambaran nyata apakah desain kemasan tidak hanya cantik, tetapi juga menguntungkan.

Menjadikan lima KPI di atas sebagai standar evaluasi akan membantu Anda melihat strategi desain kemasan secara lebih strategis, terukur, dan bebas dari debat subjektif soal selera semata.

Setelah memahami KPI utama ini, langkah berikutnya adalah menyusun format pemantauan berkala agar setiap peluncuran kemasan bisa dievaluasi dengan konsisten.

Konsultasikan desain kemasan: https://gpack.co.id

Comments are disabled.