Pernah merasa desain kemasan sudah “bagus” di layar, tapi saat masuk rak justru tenggelam di antara kompetitor? Itu masalah yang sering muncul karena keputusan di rak terjadi cepat, dalam hitungan detik dan dipengaruhi jarak pandang, pencahayaan toko, serta kebiasaan belanja. Di sini Anda akan belajar cara menguji daya tarik visual kemasan secara praktis agar keputusan desain tidak hanya berdasarkan selera internal, melainkan didukung bukti yang relevan dengan perilaku pembeli.
Pahami bagaimana produk Anda “dibaca” di rak
Sebelum menguji, sepakati dulu apa yang dimaksud “menarik” untuk kategori Anda. Di minimarket dan supermarket Indonesia, pembeli biasanya memindai rak dari kiri ke kanan dan mencari isyarat cepat seperti warna dominan kategori, ukuran logo, serta klaim utama (misalnya “tanpa gula”, “extra pedas”, “1 liter”).
Rumuskan tiga hal yang wajib tertangkap dalam 3 detik: merek, varian, dan manfaat utama. Jika salah satunya tidak terbaca dari jarak 1–2 meter, kemasan Anda berisiko kalah saat dibandingkan berdampingan.
Berdiri 2 meter dari rak simulasi (bisa dari foto rak) lalu minta orang lain menunjuk produk Anda tanpa menyipitkan mata. Jika perlu lebih dari 3 detik, catat elemen yang menghambat, biasanya kontras rendah, hierarki informasi tidak jelas, atau tipografi terlalu tipis.
Siapkan simulasi rak yang mendekati kondisi toko
Uji rak yang baik tidak harus mahal, tetapi harus realistis. Kesalahan umum adalah menilai desain dari mockup hero shot yang rapi, padahal di toko kemasan akan beradu dengan warna pesaing, label harga, dan pantulan lampu.
Gunakan pendekatan yang cukup mirip untuk mengurangi bias:
- Kumpulkan pembanding kategori: ambil 8–12 SKU kompetitor utama (atau foto rak terbaru) dari kanal yang Anda targetkan, misalnya minimarket, supermarket premium, atau e-commerce grocery.
- Buat rak simulasi: tempelkan cetak kemasan skala 1:1 pada karton, lalu susun berdampingan sesuai planogram sederhana (posisi sejajar, tinggi mata, dan level bawah).
- Replikasi gangguan visual: tambahkan strip harga, stiker promo generik, atau pencahayaan lampu putih untuk meniru kondisi toko modern.
- Uji dua jarak: 2 meter (scan cepat) dan 50–70 cm (momen memilih).
Jika Anda bermain di kategori dengan banyak varian, uji juga blocking saat beberapa varian Anda tampil bersebelahan. Kemasan yang bagus satuan kadang gagal membentuk blok merek yang kuat, padahal blok ini membantu brand terlihat dari jauh.
Metode pengujian cepat: 5 detik, A/B, dan eye-tracking versi sederhana
Setelah simulasi siap, lakukan pengujian yang memberi sinyal jelas, bukan opini panjang. Tujuannya sederhana: pastikan elemen penting terbaca cepat, desain menonjol tanpa merusak kepercayaan, dan konsisten di seluruh varian.
1) Tes 5 detik (shelf snapshot)
Tampilkan foto rak simulasi selama 5 detik lalu tutup. Tanyakan tiga hal: produk apa yang paling diingat, merek apa yang terlihat paling jelas, dan manfaat apa yang mereka tangkap. Jika responden tidak menyebut merek Anda atau salah menangkap varian, perbaiki hierarki visual.
2) Tes A/B berpasangan
Bandingkan dua versi desain (A dan B) dalam konteks rak, bukan berdiri sendiri. Minta responden memilih mana yang lebih mudah ditemukan dan lebih meyakinkan untuk dibeli, lalu minta alasan singkat satu kalimat. Pola alasan berulang (misalnya “lebih kontras”, “tulisan varian lebih besar”) lebih berguna daripada komentar selera.
3) “Eye-tracking” manual dengan tugas
Tanpa alat khusus, buat tugas yang memaksa perilaku belanja nyata: “Cari varian pedas level 3” atau “Cari ukuran 250 ml”. Ukur waktunya dengan stopwatch. Jika lama, biasanya penanda varian tidak cukup unik, posisi informasi tidak konsisten antar varian, atau warna varian mirip kompetitor.
4) Uji kejelasan informasi (label comprehension)
Di Indonesia, kejelasan informasi seperti berat bersih, komposisi, dan informasi gizi ikut membangun kepercayaan. Minta responden menemukan informasi tertentu dalam 10 detik. Jika sering gagal, atur ulang tata letak panel belakang atau samping agar lebih terstruktur sambil menjaga area depan tetap fokus pada penjualan.
Untuk memperkuat pesan produk tanpa membuat depan kemasan penuh, rapikan hierarki klaim dan manfaat utama. Jika Anda menyusun pesan yang ringkas namun kuat, referensi seperti cara memadukan pesan produk pada strategi desain kemasan bisa membantu sebagai kerangka penyusunan elemen teks.
Ubah hasil uji menjadi keputusan desain yang bisa dieksekusi
Hasil pengujian sering terhenti karena tim berhenti di “desain A lebih disukai” tanpa tahu apa yang harus diubah. Kuncinya adalah menerjemahkan temuan menjadi aturan desain yang jelas lalu diuji ulang.
Gunakan format keputusan yang sederhana dan tegas:
- Masalah: misalnya merek tidak terbaca dari 2 meter.
- Bukti: 7 dari 10 responden salah menyebut merek dalam tes 5 detik.
- Penyebab dugaan: kontras logo dengan latar kurang, ukuran logo kalah dari elemen dekoratif.
- Perubahan: naikkan kontras, perbesar logo 10–15%, sederhanakan pola latar di area logo.
- Kriteria lulus: minimal 8 dari 10 responden menyebut merek dengan benar dalam 5 detik.
Periksa konsistensi antar SKU. Banyak brand berkembang cepat di Indonesia dengan menambah varian, lalu kehilangan keterbacaan karena setiap varian punya gaya sendiri. Buat satu template hierarki untuk semua varian, lalu bedakan dengan kode warna atau ikon yang tegas dan tidak bertabrakan dengan kompetitor utama.
Terakhir, perhatikan faktor produksi. Warna di layar bisa berbeda saat cetak, terutama pada material doff atau metalik atau saat memakai warna solid besar. Mintalah proof cetak atau dummy material lalu lakukan satu putaran uji singkat lagi di kondisi pencahayaan toko untuk memastikan kontras tetap aman.
Menguji sebelum produksi massal akan membuat keputusan desain lebih cepat, lebih objektif, dan lebih dekat dengan realita rak.
Jika perlu, catat temuan uji Anda sebagai checklist untuk iterasi desain berikutnya.
Konsultasikan desain kemasan: https://gpack.co.id
