Banyak tim produk sudah berinvestasi besar di desain kemasan, tetapi bingung ketika ditanya satu pertanyaan sederhana: seberapa besar dampaknya ke penjualan. Tanpa angka yang jelas, desain terlihat seperti biaya kreatif, bukan aset bisnis yang bisa dioptimalkan. Di sini, checklist ROI membantu Anda mengubah strategi desain kemasan menjadi keputusan yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan di ruang rapat.
Mengaitkan desain kemasan dengan tujuan bisnis yang terukur
Sebelum menghitung apa pun, Anda perlu mendefinisikan apa yang dimaksud “berhasil” untuk desain kemasan baru. Jika tujuan tidak jelas, data yang terkumpul akan sulit ditafsirkan dan mudah diperdebatkan.
Mulailah dengan menyusun 3 sampai 5 tujuan yang langsung terkait ke penjualan atau profit. Contoh tujuan: meningkatkan conversion rate, menaikkan average selling price, atau mengurangi kebutuhan diskon untuk menghabiskan stok.
Untuk setiap tujuan, tuliskan metrik utamanya secara jelas. Misalnya, jika tujuannya menaikkan conversion rate di rak minimarket, metriknya bisa rasio unit terjual per kunjungan toko atau per jumlah traffic di area rak jika retailer menyediakannya.
Lalu, tetapkan baseline sebelum desain baru diluncurkan. Ambil data minimal 4 sampai 8 minggu penjualan sebelumnya di channel yang sama dan periode yang sebanding. Perhatikan musim, hari besar, atau promo besar agar baseline tidak menyesatkan.
Checklist data: apa yang harus dikumpulkan sebelum dan sesudah redesign
Setelah tujuan dan metrik utama jelas, langkah berikutnya adalah menyiapkan data yang konsisten. Banyak proyek desain gagal membuktikan ROI bukan karena hasilnya buruk, tetapi karena datanya kacau atau tidak siap sejak awal.
Berikut elemen data penting yang sebaiknya ada di checklist Anda:
- Data penjualan per SKU dan per channel: volume, revenue, harga jual rata-rata, frekuensi restock.
- Data distribusi: jumlah outlet aktif, out of stock rate, dan kapan produk benar-benar tersedia dengan kemasan baru.
- Data aktivitas marketing: kalender promo, diskon, bundling, placement khusus (end-cap, gondola, homepage e-commerce).
- Variabel harga dan kompetitor: perubahan harga sendiri dan pesaing utama di periode yang sama.
- Data perilaku shopper: misalnya conversion rate di e-commerce, CTR terhadap hero image, atau hasil eye-tracking jika ada.
Catat dengan jelas kapan kemasan baru pertama kali masuk ke gudang distributor, kapan sudah berada di rak, dan kapan stok kemasan lama benar-benar habis. Tanpa penandaan waktu yang tepat, Anda berisiko mencampur penjualan kemasan lama dan baru sehingga dampaknya sulit dipisahkan.
Jika produk Anda dijual online, pisahkan juga data sebelum dan sesudah update hero image. Di e-commerce, perubahan visual pada thumbnail atau halaman produk sering memberi lonjakan conversion rate, sehingga ROI bisa terlihat lebih cepat.
Rumus sederhana untuk menghitung ROI desain kemasan
Dengan data yang rapi, perhitungan ROI cukup langsung. Prinsip utamanya: hitung kenaikan profit yang masuk akal dikaitkan dengan desain kemasan, lalu bandingkan dengan total biaya perubahan.
Secara sederhana, Anda bisa menggunakan rumus:
ROI (%) = (Tambahan profit bersih dari penjualan setelah redesign – Biaya proyek desain dan implementasi) / Biaya proyek desain dan implementasi x 100
Agar rumus terasa nyata, uraikan komponennya dalam langkah-langkah berikut:
- Hitung kenaikan volume atau revenue
Bandingkan rata-rata penjualan per minggu atau bulan sebelum dan sesudah redesign di channel yang sama dan periode yang sebanding. - Sesuaikan dengan faktor lain
Jika ada promo besar, penambahan outlet, atau perubahan harga drastis, lakukan koreksi. Misalnya gunakan periode tanpa promo atau bandingkan dengan SKU kontrol yang tidak mengalami redesign. - Ubah menjadi tambahan profit bersih
Kalikan tambahan volume dengan margin kontribusi per unit (harga jual dikurangi biaya variabel seperti COGS, distribusi, dan trade promo). - Kurangi total biaya proyek
Jumlahkan biaya desain, mockup dan sampling, penggantian plat, penyesuaian material, scrap stok lama, serta biaya riset jika ada.
Contoh: setelah kemasan baru, penjualan bulanan naik rata-rata 15 persen dengan margin kontribusi Rp2.000 per unit. Itu menghasilkan tambahan profit Rp50 juta per bulan. Total biaya desain dan implementasi Rp120 juta. Jika efek kenaikan bertahan 6 bulan, tambahan profitnya Rp300 juta dan ROI sekitar 150 persen.
Pastikan horizon waktu yang realistis. Untuk produk fast moving di modern trade, 3 sampai 6 bulan sering cukup untuk membaca pola. Untuk produk premium dengan siklus pembelian lebih panjang, Anda mungkin butuh 9 sampai 12 bulan.
Menggunakan A/B test dan eksperimen terbatas untuk bukti lebih kuat
Jika skala bisnis Anda sudah memadai, tambahkan eksperimen terkontrol ke checklist ROI. Pendekatan ini membantu memisahkan dampak desain dari faktor lain yang bergerak bersamaan.
Beberapa opsi eksperimen yang bisa dicoba:
- Test market geografis: luncurkan kemasan baru di beberapa kota atau cluster outlet terlebih dahulu, lalu bandingkan dengan area kontrol.
- A/B test di e-commerce: gunakan dua visual kemasan (lama dan baru) pada listing berbeda dengan kondisi lain yang serupa.
- Test by channel: jalankan kemasan baru di modern trade lebih dulu, sementara general trade tetap memakai kemasan lama sebagai pembanding.
Untuk setiap eksperimen, tentukan sejak awal variabel yang diubah, durasi pengujian, dan indikator keberhasilan. Disiplin seperti ini membuat diskusi internal lebih fokus pada data, bukan selera desain semata.
Visual storytelling di kemasan juga dapat diuji. Misalnya, minta tim kreatif menyesuaikan hierarki informasi, warna utama, atau elemen cerita produk, lalu lihat dampaknya pada conversion rate di A/B test. Jika ingin menggali aspek cerita visual lebih dalam, Anda bisa merujuk ke panduan di strategi storytelling visual kemasan yang otentik dan mengaitkannya dengan insight penjualan.
Checklist pelengkap: insight kualitatif yang melengkapi angka ROI
Angka ROI kuat untuk diskusi finansial, tetapi insight kualitatif sering menentukan arah iterasi berikutnya. Karena kemasan adalah media komunikasi di titik penjualan, persepsi konsumen perlu dimasukkan ke checklist.
Beberapa sumber insight kualitatif yang relevan:
- Interview singkat dengan pembeli aktual: minta mereka menjelaskan apa yang mereka lihat duluan dan apa yang mereka pahami dari kemasan.
- Feedback dari merchandiser dan sales: gali cerita tentang bagaimana produk Anda tampil di rak dibanding kompetitor setelah redesign.
- Review di marketplace dan media sosial: cari komentar yang menyinggung tampilan kemasan, kejelasan informasi, atau persepsi kualitas.
- Observasi di toko: amati secara langsung bagaimana shopper men-scan rak, berhenti, mengambil, membandingkan, dan memutuskan.
Gabungkan insight ini dengan angka penjualan supaya keputusan desain berikutnya lebih tajam. Jika angka menunjukkan kenaikan tetapi banyak konsumen masih bingung dengan informasi tertentu, itu sinyal untuk menyempurnakan elemen informasi, bukan mengganti keseluruhan konsep. Sebaliknya, bila penjualan tidak bergerak sementara feedback menyebut kemasan kurang terlihat di rak, fokus optimasi bisa ke kontras warna, skala branding, atau elemen visual utama.
Dengan kombinasi checklist kuantitatif dan kualitatif yang konsisten digunakan di setiap proyek, Anda tidak hanya menghitung ROI sekali, tetapi membangun sistem pembelajaran berkelanjutan yang membuat strategi desain kemasan semakin tajam dari waktu ke waktu.
Langkah berikutnya adalah menyusun versi checklist yang paling relevan dengan situasi dan data tim Anda.
Konsultasikan desain kemasan: https://gpack.co.id
