Memandu Produsen Mematuhi Regulasi Keamanan Lewat Standar Kualitas Kemasan

Setiap produk pangan yang keluar dari pabrik atau dapur komersial membawa dua janji: rasa yang konsisten dan keamanan yang terjamin. Di Indonesia, janji kedua sering diuji oleh regulasi ketat. Titik kritisnya ada pada kualitas kemasan yang langsung bersentuhan dengan produk.

Artikel ini menjelaskan bagaimana menjadikan standar kualitas kemasan sebagai alat praktis untuk memenuhi regulasi keamanan pangan di Indonesia. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko penarikan produk, keluhan konsumen, dan temuan audit dari otoritas.

Kerangka regulasi dan peran kemasan

Untuk produk pangan yang beredar di Indonesia, kemasan bukan hanya elemen merek. Ia juga bagian dari persyaratan keamanan yang diawasi BPOM dan standar nasional seperti SNI. Produsen yang memahami hubungan ini bisa merancang kemasan sejak awal agar selaras dengan persyaratan teknis dan administratif.

Secara umum ada tiga kewajiban utama terkait kemasan pangan: bahan kemasan, kontak pangan, dan informasi label. Material harus food grade, tidak melepaskan kontaminan berbahaya, dan sesuai dengan karakter produk seperti tinggi lemak, asam, atau sensitif terhadap oksigen.

Persyaratan kontak pangan meliputi potensi migrasi bahan kimia, ketahanan terhadap suhu proses, dan stabilitas selama distribusi. Informasi pada label harus jelas soal komposisi, tanggal kedaluwarsa, nomor izin edar, dan petunjuk penyimpanan. Ringkasan regulasi dapat ditinjau di situs resmi BPOM di https://www.pom.go.id.

Membangun standar kualitas kemasan yang sesuai regulasi

Tanpa standar internal yang terdokumentasi, sulit memastikan setiap batch kemasan memenuhi persyaratan keamanan. Organisasi perlu menerjemahkan kewajiban regulasi menjadi standar teknis yang bisa diuji dan diaudit.

Langkah pertama adalah memetakan risiko berdasarkan karakter produk: kering, cair, beku, siap saji, atau yang memerlukan pemanasan ulang. Setiap kategori membutuhkan sifat kemasan berbeda, misalnya ketahanan panas untuk proses retort atau ketahanan kelembapan untuk produk renyah. Pemetaan ini menjadi dasar spesifikasi teknis.

Dari pemetaan itu, spesifikasi kemasan sebaiknya dituangkan rinci dalam dokumen standar. Dokumen ini memudahkan pengujian dan verifikasi saat audit.

  • Jenis material utama dan lapisan pelindung (misalnya PET, PP, multilayer, karton berlaminasi)
  • Ketebalan minimum dan toleransi deviasi
  • Kekuatan segel (seal strength) dan metode pengujiannya
  • Persyaratan migrasi global dan spesifik jika relevan
  • Rentang suhu proses dan penyimpanan yang aman

Setiap parameter harus dikaitkan langsung dengan persyaratan regulasi atau hasil analisis bahaya internal. Dengan bukti itu, tim quality assurance bisa menjelaskan keputusan teknis kepada manajemen nonteknis secara objektif.

Integrasi standar kemasan ke proses produksi dan rantai pasok

Standar tertulis tidak cukup jika tidak diimplementasikan dalam praktik harian. Integrasi membutuhkan alur kerja jelas mulai pemilihan pemasok, penerimaan barang, hingga pengemasan akhir di lini produksi.

Pada pemilihan pemasok, minta sertifikasi relevan seperti ISO 22000 atau FSSC 22000, serta hasil uji laboratorium untuk bahan yang kontak langsung dengan pangan. Kontrak sebaiknya mencantumkan spesifikasi kritis dan kewajiban pemberitahuan bila ada perubahan bahan atau proses.

Di area penerimaan, inspeksi harus menilai aspek visual dan fungsional. Contohnya memeriksa pinhole pada film plastik, deformasi botol, atau cetakan label yang kabur. Untuk risiko tinggi, sampling rutin dapat mencakup uji kebocoran, drop test, atau uji ketahanan suhu sesuai kondisi distribusi.

Di lini produksi, standar kemasan perlu diterjemahkan menjadi instruksi kerja yang jelas bagi operator. Instruksi yang praktis memudahkan konsistensi dan penegakan standar.

  • Pengaturan suhu dan tekanan sealing yang divalidasi
  • Pemeriksaan berkala integritas segel selama produksi berjalan
  • Pemisahan area penyimpanan kemasan kosong agar terlindung dari debu dan hama
  • Penerapan FIFO atau FEFO untuk stok kemasan yang memiliki batas stabilitas tertentu

Untuk pengambilan keputusan yang terukur, pengelola dapat menggabungkan standar keamanan dengan analisis kinerja bisnis. Misalnya melalui penerapan strategi desain kemasan yang terukur yang menilai dampak desain dan kualitas terhadap efisiensi rantai pasok serta persepsi konsumen.

Pengawasan, dokumentasi, dan perbaikan berkelanjutan

Kepatuhan terhadap regulasi keamanan pangan berbasis kemasan harus dibuktikan dengan catatan dan bukti. Sistem pengawasan dan dokumentasi yang konsisten memungkinkan penelusuran keputusan saat ada keluhan atau investigasi.

Pengawasan harian bisa berupa checklist visual yang diisi di area produksi dan gudang kemasan. Untuk parameter teknis, lakukan pengujian berkala di laboratorium internal atau eksternal, misalnya uji migrasi pada material baru atau saat terjadi pergantian pemasok. Arsipkan hasil uji bersama spesifikasi dan sertifikat analisis.

Jika terjadi deviasi seperti kenaikan cacat kemasan atau kebocoran berulang, lakukan analisis akar masalah bersama tim lintas fungsi. Metode seperti diagram sebab akibat atau 5-Why membantu membedakan sumber masalah: desain, material, setelan mesin, atau penyimpangan prosedur.

Perbaikan dari analisis perlu dicatat dalam revisi dokumen standar, perubahan spesifikasi, atau penyesuaian parameter proses. Dengan langkah ini organisasi memperbaiki sistem jangka panjang dan mengurangi peluang pelanggaran regulasi berulang.

Pada akhirnya, penerapan standar kualitas kemasan yang terintegrasi dengan regulasi keamanan pangan di Indonesia membantu menurunkan risiko insiden, menjaga kepercayaan konsumen, dan meningkatkan disiplin operasional di seluruh lini produksi.

Evaluasi berkala terhadap kemasan dan kesesuaian regulasi menjadi langkah penting berikutnya untuk mempertahankan keandalan produk di pasar.

Pelajari standar kualitas kami: https://gpack.co.id

Comments are disabled.