Banyak merek makanan dan minuman sudah mengganti plastik konvensional, tetapi bingung memilih antara kertas dan PLA. Keduanya sering diklaim ramah lingkungan, namun dampaknya berbeda tergantung desain kemasan, proses produksi, dan infrastruktur pengelolaan sampah di Indonesia.
Artikel ini membantu Anda membandingkan kertas dan PLA secara menyeluruh. Kami membahas jejak lingkungan, performa untuk produk F&B, serta kemudahan pengelolaan di akhir masa pakai. Tujuannya agar Anda bisa membuat keputusan kemasan yang realistis, bukan sekadar menarik di materi kampanye.
Memahami apa itu kertas dan PLA dalam konteks kemasan
Sebelum membandingkan, penting menyamakan istilah. “Kertas” untuk kemasan F&B biasanya bukan kertas murni, melainkan food grade yang sering dilapisi bahan lain agar tahan minyak dan air.
Lapisan ini bisa berupa plastik tipis (PE), akrilik berbasis air, atau kadang PLA. Sedangkan PLA (Polylactic Acid) adalah bioplastik yang umumnya dibuat dari pati jagung atau tebu.
Walau bersumber dari tanaman, PLA tidak otomatis mudah terurai di kondisi lingkungan biasa.
Bagi bisnis F&B, kedua material umum hadir dalam beberapa bentuk utama:
- Kertas: paper cup panas/dingin, bowl, box makanan, paper bag, sleeve minuman.
- PLA: cup minuman dingin, sedotan, sendok/garpu sekali pakai, lapisan di kertas atau karton.
Dari situ menjadi jelas bahwa pilihan bukan sekadar “kertas vs PLA”. Anda perlu melihat kombinasi material dan desain yang sesuai kebutuhan produk dan sistem pengelolaan limbah di area pemasaran Anda.
Jejak lingkungan: produksi, penggunaan, dan akhir masa pakai
Jika tujuan Anda mengurangi dampak lingkungan, lihat siklus hidup material, bukan hanya label pada kemasan. Perhatikan tiga tahap: produksi, penggunaan, dan setelah dibuang.
Pada produksi, kertas berasal dari serat kayu yang bisa bersumber dari hutan produksi berkelanjutan. Namun prosesnya memakai banyak air, energi, dan bahan kimia.
PLA memakai sumber terbarukan, tetapi budidaya tanaman penghasil pati membutuhkan pupuk, lahan, dan transportasi. Di Indonesia, rantai pasok kerap melibatkan impor.
Dalam penggunaan, kertas unggul untuk makanan panas karena stabil terhadap suhu jika spesifikasi food grade terpenuhi. Kelemahannya, kertas mudah lembek dan tembus tanpa lapisan penghalang.
PLA lebih cocok untuk minuman dingin atau suhu ruang karena titik lunaknya sekitar 55–60°C. Itu membuatnya tidak ideal untuk minuman panas.
Pertanyaan penting: bagaimana keduanya diurus setelah dipakai? Di Indonesia, fasilitas daur ulang kertas lebih banyak dibanding untuk PLA. Kertas tanpa kontaminasi dan dengan lapisan yang bisa dipisah masih bernilai bagi bank sampah atau pelapak.
PLA pada teori bisa dikompos, namun biasanya butuh fasilitas kompos industri dengan kontrol suhu dan kelembapan. Fasilitas semacam itu masih sangat terbatas.
Di tempat pembuangan terbuka atau landfill, PLA tidak otomatis terurai cepat. Tanpa pemilahan dan pengolahan khusus, PLA berperilaku hampir seperti plastik konvensional bagi lingkungan setempat.
Kertas cenderung terdegradasi lebih cepat, meski tinta, lapisan, dan kontaminan makanan tetap menambah beban lingkungan.
Kinerja kertas vs PLA untuk bisnis F&B di Indonesia
Selain dampak lingkungan, kemasan harus memenuhi keamanan pangan, kenyamanan konsumen, dan efisiensi operasional. Di banyak kasus, kompromi teknis menentukan material yang paling realistis.
Untuk minuman panas seperti kopi dan teh, kertas dengan double wall atau sleeve lebih aman dan stabil dibanding PLA. Desain kertas yang baik menjaga suhu tanpa membuat tangan pelanggan terlalu panas.
PLA cocok untuk minuman dingin, jus, dan minuman berkarbonasi ringan. Kelebihannya adalah tampilan bening yang mendukung pengalaman merek.
Untuk makanan berminyak atau berkuah, kertas perlu lapisan agar tidak bocor dan tetap kuat. Di sinilah tantangan lingkungan muncul: lapisan plastik menyulitkan daur ulang, sementara lapisan PLA membutuhkan fasilitas pengolahan khusus.
Oleh karena itu, pastikan kemasan tetap memenuhi standar kualitas kemasan tanpa mengorbankan tujuan keberlanjutan.
Dari sisi operasional, pertimbangkan beberapa aspek berikut:
- Stabilitas stok dan lead time: suplai kertas food grade biasanya lebih stabil dibanding PLA, terutama di luar kota besar.
- Biaya per unit: PLA umumnya lebih mahal daripada kertas biasa, meski selisih bisa mengecil dengan volume besar dan desain efisien.
- Pengalaman konsumen: kertas memberi kesan hangat dan natural, sementara PLA menonjolkan kejernihan visual untuk minuman estetis.
- Kompatibilitas dengan peralatan: misalnya sealing cup, mesin pengisi, hingga penyimpanan di ruang dingin.
Jika mayoritas penjualan Anda berupa minuman dingin takeaway atau delivery, kombinasi cup PLA dan paper bag bisa jadi kompromi. Untuk konsep dine-in dengan makanan panas dan berminyak, kertas kokoh dan manajemen limbah yang jelas biasanya lebih praktis.
Cara menentukan pilihan terbaik untuk kemasan ramah lingkungan
Tidak ada jawaban tunggal yang cocok untuk semua merek. Pilihan antara kertas dan PLA harus berdasarkan data bisnis dan konteks lokal di area operasi Anda. Fokus hanya pada klaim material tanpa mempertimbangkan sistem pengumpulan dan pengolahan sampah berisiko memindahkan masalah.
Langkah pertama, petakan portofolio produk dan pola konsumsi. Pisahkan produk panas, dingin, berminyak, dan berair, lalu identifikasi skenario pemakaian: dikonsumsi di tempat, dibawa pulang, atau dikirim jarak jauh.
Setiap skenario membutuhkan karakteristik kemasan yang berbeda, seperti ketahanan suhu, kekuatan struktur, dan kemampuan menjaga kualitas sensorik.
Berikutnya, kaji ekosistem pengelolaan sampah di area penjualan utama Anda. Di kota dengan program bank sampah aktif dan fasilitas daur ulang kertas yang berkembang, kemasan kertas minim laminasi bisa jadi strategi realistis. Jika ada akses ke kompos industri, PLA bisa dimanfaatkan lebih baik.
Setelah itu, uji performa kemasan secara terukur. Lakukan pengujian sederhana seperti:
- Uji kebocoran sesuai waktu pengantaran yang umum.
- Uji ketahanan suhu untuk minuman panas dan dingin.
- Uji dampak pada cita rasa dan aroma produk setelah beberapa jam.
- Simulasi perlakuan saat pengiriman: terguncang, ditumpuk, atau disimpan di chiller.
Data uji ini membantu menyeimbangkan kriteria lingkungan dengan kualitas pengalaman pelanggan. Produk yang tumpah atau cepat menurun kualitasnya justru menyebabkan pemborosan makanan, yang buruk bagi lingkungan dan margin bisnis.
Terakhir, komunikasikan secara jujur kepada konsumen cara membuang kemasan. Jika memilih kertas, jelaskan apakah bagian kotor harus dipisah dari bagian yang bisa didaur ulang. Jika memakai PLA, sampaikan bahwa pengelolaan optimal butuh fasilitas tertentu sehingga perlu kemitraan dengan komunitas atau operator pengolahan sampah.
Dengan mempertimbangkan siklus hidup material, kinerja teknis, sistem pengelolaan sampah lokal, serta pengalaman konsumen, Anda dapat menyusun strategi kemasan yang lebih selaras dengan target keberlanjutan dan realitas operasional sehari-hari.
Jika Anda sudah memiliki gambaran awal, langkah berikutnya adalah merumuskan kebijakan kemasan yang terukur dan konsisten agar keputusan material selalu selaras dengan tujuan keberlanjutan jangka panjang.
Pelajari opsi ramah lingkungan: https://gpack.co.id
