Studi Kasus: Strategi Desain Kemasan Yang Meningkatkan Penjualan Retail

Pernah melihat produk yang rasanya enak, tapi di rak seperti tidak terlihat? Di retail modern Indonesia, beberapa detik pertama menentukan apakah calon pembeli akan mengambil, membaca, lalu memasukkan ke keranjang. Studi kasus berikut membedah perubahan kemasan yang sederhana namun terarah, dan bagaimana strategi yang tepat bisa menaikkan penjualan tanpa mengubah formula produk.

Studi kasus: dari sulit ditemukan menjadi mudah dipilih

Kasus ini berasal dari sebuah brand minuman serbuk rasa buah ukuran 20–25 gram yang dijual di minimarket dan supermarket. Tantangan utamanya bukan harga, melainkan visibilitas: kemasan tampak ramai, nama varian kurang terbaca, dan pesan manfaat tenggelam di antara elemen dekoratif. Tim menemukan masalah itu saat melakukan audit rak di 12 gerai di Jabodetabek, termasuk membandingkan posisi produk ketika digantung (hanging) versus disusun di rak.

Data awalnya cukup konsisten: dari 60 responden intercept singkat, lebih dari separuh mengira produk berasal dari kategori lain karena visualnya tidak memberi sinyal yang kuat. Selain itu, 3 dari 5 orang hanya bisa menyebutkan varian setelah memegang kemasan. Artinya kemasan kalah di fase pemindaian cepat; pada baseline 4 minggu, penjualan rata-rata 100 unit per minggu per toko dengan tingkat repeat yang stabil, tetapi akuisisi pembeli baru stagnan.

Target perbaikannya spesifik: menaikkan keterbacaan dari jarak 1 meter, memperjelas kategori, dan mempercepat keputusan varian. Strategi ini juga harus aman untuk operasional retail, misalnya tetap terbaca saat sebagian kemasan tertutup price tag, serta tetap efisien untuk produksi massal. Dengan batasan tersebut, tim menyepakati dua versi desain untuk diuji lewat A/B test di toko.

Elemen strategi desain kemasan yang diubah (dan alasannya)

Perubahan pertama adalah hierarki informasi. Nama brand dan kategori produk dipindahkan ke area paling atas dengan kontras tinggi, sementara elemen dekoratif dipangkas agar tidak mengganggu pemindaian mata. Prinsipnya sederhana: pembeli harus menangkap kategori, varian, dan manfaat utama dalam urutan yang konsisten tanpa memutar kemasan.

Kedua, sistem warna varian disederhanakan. Sebelumnya setiap varian memiliki palet kompleks sehingga rak terlihat seperti pola acak. Tim menggantinya dengan satu warna induk untuk kategori, lalu satu warna aksen kuat untuk membedakan rasa, sehingga blok warna di rak terlihat rapi dan mudah dicari.

Ketiga, tipografi ditata ulang untuk mengatasi masalah keterbacaan. Ukuran huruf varian dinaikkan, jarak antarhuruf disesuaikan, dan kombinasi font dibatasi agar pesan terlihat tegas. Jika tim Anda sedang merapikan area ini, rujukan praktis tentang penggunaan tipografi untuk memperkuat strategi desain kemasan bisa membantu menyusun aturan yang konsisten antar-SKU.

Keempat, klaim manfaat dipilih ulang berdasarkan apa yang benar-benar dicari pembeli di kategori tersebut. Tim mengganti klaim umum menjadi satu klaim yang spesifik dan mudah diverifikasi, lalu menempatkannya dekat dengan area pandang utama. Mereka juga menghindari menumpuk banyak badge karena lencana berlebih justru menurunkan kepercayaan dan membuat desain tampak seperti promosi permanen.

Kelima, visual rasa dibuat lebih fungsional. Bukan sekadar gambar buah besar, tetapi ilustrasi bahan yang membantu pembeli membedakan rasa dengan cepat ketika berdiri sejajar rak. Ini penting untuk minimarket yang pencahayaannya bervariasi dan untuk kondisi rak yang padat.

Terakhir, aspek kepatuhan tetap dijaga agar tidak memunculkan masalah saat distribusi luas. Untuk produk pangan/minuman di Indonesia, tim memastikan elemen wajib seperti informasi netto, komposisi, tanggal kedaluwarsa, dan ruang untuk kode produksi tetap terbaca dan tidak tertutup elemen desain. Mereka juga menyiapkan ruang aman untuk label terkait, sehingga kemasan lebih siap menghadapi perubahan tanpa perlu redesign besar.

Perubahan kecil yang sering memberi dampak besar

Dari proses tersebut, ada beberapa keputusan desain yang terlihat kecil tetapi sangat berpengaruh di retail. Tim menguji semuanya dengan melihat kemasan dari jarak 1 meter, 2 meter, dan dari sudut 30 derajat karena pembeli jarang melihat kemasan tegak lurus. Mereka juga memotret kemasan di rak menggunakan ponsel biasa untuk mensimulasikan kondisi mata pembeli yang bergerak cepat.

  • Kontras teks utama ditingkatkan agar tetap terbaca di bawah lampu toko.
  • Area kosong (white space) ditambah supaya elemen kunci tidak saling berebut perhatian.
  • Icon kecil yang tidak membantu keputusan pembelian dihapus untuk mengurangi noise.
  • Struktur depan kemasan diseragamkan agar pembeli mengenali seri produk dalam satu pandangan.
  • Nama varian diposisikan konsisten di semua SKU agar pencarian rasa menjadi kebiasaan.

Perlu dicatat, keputusan ini bukan soal selera visual, melainkan soal perilaku belanja. Ketika desain memandu mata dengan jelas, pembeli tidak perlu ragu, dan keraguan adalah musuh utama konversi di rak. Kuncinya adalah disiplin memilih informasi yang benar-benar membantu.

Hasil uji di rak dan cara menirunya untuk brand Anda

Uji coba dilakukan 6 minggu, dengan 10 toko menggunakan desain baru dan 10 toko tetap memakai desain lama, pada kanal dan harga yang sama. Tim memantau penjualan mingguan per toko, tingkat out-of-stock, serta melakukan survei singkat dua pertanyaan di akhir pekan. Dalam periode tersebut, desain baru mencatat kenaikan penjualan rata-rata 18% dibanding kontrol, dengan lonjakan terbesar pada dua varian yang sebelumnya paling sulit dibedakan.

Kenaikan tidak hanya berasal dari pembeli baru. Beberapa pelanggan lama menyebut produk terasa lebih mudah ditemukan, sehingga pembelian impuls meningkat saat mereka tidak merencanakan kategori itu sebelumnya. Dari survei, waktu yang dibutuhkan responden untuk menyebutkan varian yang mereka lihat turun dari rata-rata 4–5 detik menjadi sekitar 2–3 detik, cukup signifikan di aisle yang ramai.

Agar hasilnya bisa direplikasi, fokuslah pada metodologi, bukan menyalin tampilan. Mulailah dengan audit sederhana: foto rak pada jam ramai, catat pesaing terdekat, dan identifikasi tiga informasi yang paling menentukan keputusan di kategori Anda. Lalu pastikan tiga informasi itu menang soal ukuran, kontras, dan posisi.

Selanjutnya, buat dua alternatif desain dengan perbedaan yang jelas, bukan variasi kecil yang sulit diukur. Uji minimal empat minggu agar efek promosi musiman dan hari gajian lebih seimbang, terutama bila produk Anda sensitif terhadap momen bulanan. Jika memungkinkan, mintalah merchandiser atau tim lapangan menilai apakah kemasan masih terbaca saat tersusun rapat, karena kondisi rak ideal jarang terjadi di lapangan.

Terakhir, dokumentasikan aturan desain sebagai sistem, bukan file final semata. Sistem mencakup grid, hierarki teks, aturan warna varian, serta area aman untuk informasi wajib dan elemen produksi. Dengan cara ini, saat menambah SKU baru atau membuat ukuran berbeda, Anda tidak mengulang debat dari nol dan konsistensi merek tetap terjaga.

Luangkan waktu 30 menit untuk menilai kemasan Anda dari jarak 1–2 meter di rak simulasi.

Konsultasikan desain kemasan: https://gpack.co.id

Comments are disabled.