Pesan kemasan lalu menemukan tutup bocor, warna logo meleset, atau ukuran tidak pas dengan mesin filling adalah skenario yang mahal dan menguras waktu. Pengujian sampel sebelum produksi massal membantu Anda mengunci spesifikasi, meminimalkan risiko klaim, dan memastikan kemasan benar-benar cocok dengan produk serta alur produksi. Dengan alur uji yang rapi, keputusan “lanjut produksi” jadi berbasis data, bukan rasa yakin semata.
Siapkan spesifikasi dan kriteria lulus sejak awal
Uji sampel efektif bila ada standar pembanding yang jelas. Mulailah dari dokumen spesifikasi yang disepakati, minimal mencakup ukuran, bahan, ketebalan, toleransi, warna, dan metode sealing yang akan dipakai.
Untuk kemasan pangan dan minuman, pastikan aspek keamanan kontak pangan dibahas sejak awal. Vendor berpengalaman biasanya bisa menjelaskan opsi material food grade, jenis aditif, dan dokumen pendukung yang relevan untuk audit internal atau permintaan pelanggan Anda.
Berikut contoh kriteria lulus yang praktis untuk disepakati sebelum sampel dikirim:
- Toleransi dimensi: misalnya diameter mulut cup dan tinggi total sesuai kebutuhan mesin.
- Penampilan: tidak ada bintik, garis alir berlebih, atau cacat cetak yang terlihat pada jarak inspeksi.
- Fungsi: tingkat kebocoran nol pada metode uji yang disepakati.
- Kinerja sealing: lulus uji peel/robek sesuai target (misalnya mudah dibuka tapi tidak lepas saat distribusi).
- Ketahanan distribusi: tidak penyok/retak setelah simulasi tumpukan dan guncangan sederhana.
Untuk menghindari debat di akhir, tuliskan juga cara ukur dan alatnya. Contohnya: dimensi diukur dengan kaliper, berat dengan timbangan digital, dan warna mengacu pada Pantone atau sample warna fisik yang ditandatangani.
Pahami jenis sampel: dari dummy sampai pre-production sample
Kata “sampel” bisa bermakna berbeda dan sering menjadi sumber miskomunikasi antara tim procurement dan pabrik. Minta konfirmasi tertulis tentang jenis sampel yang Anda terima, karena tingkat kemiripan dengan produksi massal berbeda-beda.
Jenis yang umum antara lain dummy visual (untuk memeriksa bentuk dan tata letak), sample bahan (untuk memastikan feel dan ketebalan), serta pre-production sample yang dibuat dengan setelan mesin mendekati kondisi produksi. Jika kemasan memakai cetakan atau plate cetak khusus, pre-production sample biasanya paling representatif untuk menilai stabilitas kualitas.
Di tahap ini, Anda akan terbantu bila punya daftar pemeriksaan yang menggabungkan desain, fungsi, dan kesiapan produksi. Anda bisa merujuk contoh checklist sebelum memesan massal untuk memastikan tidak ada poin dasar yang terlewat saat menilai sampel.
Pastikan jumlah sampel cukup untuk diuji, bukan hanya dilihat. Untuk item seperti cup, botol, atau pouch, minta sampel tambahan untuk uji filling, uji distribusi, dan uji simpan singkat karena masing-masing uji memerlukan unit tersendiri.
Metode pengujian yang relevan untuk kemasan (uji cepat hingga uji fungsional)
Pengujian yang baik berlapis: inspeksi cepat, uji fungsional, lalu uji yang meniru kondisi nyata. Anda tidak selalu butuh laboratorium mahal, tetapi metode harus konsisten agar hasil bisa dipertanggungjawabkan.
1) Inspeksi fisik dan dimensi
Lakukan pemeriksaan visual di bawah pencahayaan konsisten. Cari cacat seperti gores, pinhole, kontaminan, gelembung, sambungan tidak rapi, atau ketebalan tidak merata yang bisa menyebabkan kebocoran.
Ukur dimensi kritis yang berhubungan dengan kompatibilitas mesin dan aksesori, misalnya diameter bibir cup, pitch tutup, lebar seal area, atau lebar gusset pada pouch. Catat minimal 5–10 titik pengukuran per parameter untuk melihat variasi, bukan hanya rata-rata.
2) Uji material dan ketahanan dasar
Untuk plastik, cek berat per unit dan kekakuan relatif sebagai indikator konsistensi bahan dan ketebalan. Jika kemasan perlu ketahanan dingin atau panas, lakukan uji suhu sederhana sesuai skenario produk untuk melihat perubahan bentuk atau delaminasi label.
Pada kemasan cetak, uji ketahanan gosok (rub test) dan ketahanan terhadap kondensasi. Contoh sederhana: simpan kemasan di cooler box selama 30–60 menit, lalu cek apakah tinta mudah luntur atau label mengelupas saat diusap.
3) Uji kebocoran dan kekuatan seal
Kebocoran sering muncul karena kombinasi material, area sealing, dan parameter mesin. Lakukan uji kebocoran yang disepakati, misalnya uji tekan ringan, inversion test, atau uji rendam untuk melihat gelembung pada sambungan.
Untuk cup dengan sealer film, uji peel strength secara praktis: buka film dengan sudut konsisten dan nilai apakah sobekannya rapi, tidak meninggalkan residu, dan tidak mudah terlepas saat ditumpuk. Untuk pouch spout atau botol, cek torsi tutup dan kondisi liner/seal agar tidak rembes saat getaran.
4) Uji kompatibilitas dengan produk dan proses Anda
Ini tahap yang sering dilewatkan oleh UMKM padahal menentukan hasil akhir. Isi sampel dengan produk asli atau simulant yang mendekati (misalnya air gula untuk minuman manis), lalu jalankan proses seperti biasa: filling, sealing/capping, pendinginan, dan penyimpanan.
Amati perubahan dalam 24–72 jam pertama: apakah ada embun berlebih yang merusak cetak, apakah kemasan mengembang, atau muncul bau asing. Jika produk sensitif aroma, lakukan uji organoleptik sederhana dengan panel internal, sambil mencatat prosedur dan hasilnya.
5) Simulasi distribusi dan handling
Kemasan yang baik di meja uji belum tentu aman saat dikirim. Susun kemasan seperti kondisi dalam karton, lakukan uji tumpukan singkat (misalnya 2–3 layer) dan simulasi guncangan sederhana dengan mengangkat dan menjatuhkan karton dari ketinggian rendah sesuai risiko penanganan di gudang.
Perhatikan titik lemah yang muncul: sudut karton penyok yang menekan tutup, seal pouch yang terbuka karena gesekan, atau cup yang retak rambut. Temuan ini membantu menentukan perlu tidaknya perubahan material, desain karton, atau cara palletizing.
Dokumentasi, persetujuan, dan kontrol perubahan sebelum “GO Production”
Setelah uji selesai, rapikan hasil menjadi keputusan yang bisa diaudit. Buat lembar evaluasi yang memuat: tanggal uji, nomor lot sampel, metode uji, hasil angka/observasi, foto cacat bila ada, dan status lulus/gagal untuk tiap kriteria.
Jika ada revisi, bedakan mana yang berdampak besar dan mana yang kosmetik. Perubahan material, ketebalan, dimensi, atau struktur laminasi sebaiknya memicu pengujian ulang karena bisa memengaruhi sealing, kekuatan, dan performa distribusi.
Untuk menghindari drift kualitas, minta pabrik mengunci acuan produksi: master color atau drawdown yang ditandatangani, batas toleransi dimensi, serta contoh kemasan yang disetujui (golden sample). Praktik yang rapi biasanya juga menyertakan kontrol selama produksi seperti pemeriksaan berkala per jam atau per jumlah output tertentu, sehingga hasil massal konsisten dengan sampel yang Anda setujui.
Terakhir, pastikan siapa yang berwenang memberi persetujuan final jelas, misalnya gabungan QA internal dan tim operasional. Keputusan yang cepat itu baik, tetapi keputusan yang terdokumentasi akan jauh lebih aman ketika ada komplain pelanggan atau audit dari mitra distribusi.
Dengan alur uji yang terstruktur, Anda bisa menekan risiko cacat, mempercepat serah-terima, dan menjaga konsistensi kualitas kemasan di setiap batch.
Jika waktu terbatas, mulai dari kriteria lulus yang paling memengaruhi kebocoran dan kompatibilitas mesin.
Pelajari layanan pabrik kami di gpack.co.id
