7 Tes Sederhana Untuk Menilai Kualitas Kemasan Kertas

Pernah mendapat komplain karena box makanan lembek, tinta luntur, atau tutupnya tidak rapat? Masalah seperti ini sering muncul bukan karena desain, melainkan karena kualitas bahan dan proses konversi yang tidak diuji sejak awal. Dengan beberapa tes sederhana yang bisa dilakukan di meja kerja, Anda dapat menyaring sampel kemasan lebih cepat, mengurangi risiko retur, dan menyusun spesifikasi pembelian yang lebih jelas.

Apa yang dimaksud kualitas, dan kenapa harus dites sejak sampel

Dalam praktik produksi makanan di Indonesia, “bagus” pada kemasan biasanya berarti aman untuk kontak singkat dengan makanan, cukup kuat menahan beban dan kelembapan, serta tetap rapi saat penanganan dan pengantaran. Kualitas tidak ditentukan hanya oleh jenis kertas, tetapi juga gramasi, lapisan (coating/laminasi), jenis lem, serta mutu cetak dan proses pelipatan.

Tes sederhana membantu menyamakan penilaian antara tim produksi, buyer, dan vendor. Ketika semua pihak menilai sampel dengan cara serupa, keputusan tidak bergantung pada kesan visual semata dan revisi berulang bisa berkurang.

7 tes sederhana yang bisa dilakukan tanpa alat laboratorium

Berikut pendekatan praktis untuk menilai sampel. Usahakan menguji minimal 3–5 pcs per varian karena variasi produksi bisa terjadi antar lembar.

Tes 1–4: fokus pada kekuatan dan ketahanan terhadap kelembapan

  1. Tes tekan dan pegang beban (compression & load hold). Isi kemasan dengan beban mendekati kondisi nyata, misalnya 500–800 gram untuk nasi dan lauk, lalu angkat pada titik pegangan atau sisi yang biasa dipegang kurir. Amati apakah dinding menggelombang, sudut mengempis, atau tutup bergeser; catat pada beban berapa deformasi mulai terlihat.
  2. Tes lipat berulang pada garis crease. Lipat-buka area lipatan utama 5–10 kali pada sampel. Crease yang baik tidak mudah retak dan serat tidak mengembang sehingga tampak putih pada lipatan; ini penting untuk kemasan yang sering dibuka-tutup seperti box pastry atau bento.
  3. Tes serap air singkat (water spot) untuk permukaan luar. Teteskan air 1–2 ml pada permukaan luar, diamkan 60 detik, lalu lap dengan tisu. Jika cepat menyerap dan menimbulkan noda melebar, kemasan berisiko lembek saat terkena kondensasi minuman dingin atau hujan ringan saat pengantaran.
  4. Tes minyak sederhana untuk makanan berminyak. Letakkan tisu di bawah sampel, tuang sedikit minyak goreng di bagian dalam (sekitar 2 ml) dan diamkan 10–15 menit. Jika minyak tembus dan meninggalkan bercak pada tisu, lapisan penahan minyak kemungkinan kurang memadai untuk ayam goreng, martabak, atau menu bersantan.

Tes 5–7: fokus pada keamanan penggunaan, kualitas cetak, dan detail konversi

  1. Tes bau dan off-odor. Tutup sampel kosong dalam wadah bersih selama 30 menit, lalu cium aroma bagian dalam. Bau menyengat seperti solvent atau lem harus diwaspadai, terutama untuk produk panas; minta klarifikasi tentang material dan proses pengeringan tinta/lem.
  2. Tes gosok tinta (rub test) saat kering. Gosok area cetak dengan tisu kering 20 kali, lalu ulangi dengan tisu sedikit lembap. Tinta yang baik tidak mudah transfer; jika warna menempel di tisu, ada risiko luntur saat terkena tangan berkeringat atau uap panas.
  3. Tes kerapian lem dan presisi dimensi. Periksa sambungan: tarik pelan area yang dilem dan lihat apakah mudah lepas atau meninggalkan serat berlebihan (indikasi setting lem kurang tepat). Ukur cepat dengan penggaris: panjang, lebar, tinggi, serta simetri tutup; selisih kecil bisa membuat penumpukan di gudang tidak rapi dan menambah waktu packing.

Jika Anda sedang membandingkan opsi pengganti plastik sekali pakai, uji di atas akan lebih bermakna bila disesuaikan dengan format produk seperti bowl, box, atau cup, misalnya pada skenario peralihan ke paper bowl biodegradable yang perlu perhatian khusus pada uap panas dan minyak.

Menyimpulkan hasil: membuat spesifikasi dan ambang lulus-gagal

Setelah tes, langkah penting berikutnya adalah menerjemahkan temuan menjadi spesifikasi yang bisa dipakai saat pengadaan. Tanpa ambang yang jelas, sampel yang “terasa oke” sering berubah menjadi masalah saat produksi massal.

Mulailah dari kondisi pemakaian nyata: jenis menu (kering, berminyak, berkuah), suhu isi (hangat/panas), durasi delivery (misalnya 30–60 menit), serta cara handling (ditumpuk, masuk tas termal, atau kena kondensasi). Dari situ, buat kriteria sederhana seperti “tidak bocor minyak 15 menit”, “tinta tidak transfer pada rub test lembap”, atau “tutup tidak terbuka saat diangkat dengan beban 700 gram”.

Untuk buyer dan manajer produksi, dokumentasi singkat sangat membantu: foto sebelum-sesudah, catatan beban/menit, dan batch sampel. Bila vendor mengganti material atau pabrik, Anda tetap punya baseline untuk membandingkan.

Pada akhirnya, 7 tes ini bukan untuk menggantikan uji laboratorium, melainkan untuk menyaring risiko paling umum yang berdampak langsung ke operasional dan pengalaman pelanggan. Dengan kebiasaan evaluasi yang konsisten, keputusan bahan menjadi lebih cepat dan komplain bisa ditekan sejak tahap sampel.

Jika Anda punya sampel di tangan, lakukan dua tes hari ini dan catat hasilnya.

Pelajari pilihan kemasan kertas kami di gpack.co.id

Comments are disabled.